Minggu, 18 Maret 2012

Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen)

Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen)

Memang sulit  mengidentifikasi apakah tanaman coklat terserang hama PBK atau tidak. Saat buahnya dibelah, isinya sudah tidak karuan akibat gerekan larvanya dari dalam. Hal ini tentu saja merugikan petani. Apabila hamparan tanaman kakao yang dimiliki tiba-tiba tidak bisa menghasilkan sedikitpun. Kalaupun ada, ternyata buahnya rusak dan cacat akibat serangan hama. Mungkin itulah sedikit gambaran kegundahan yang dialami para petani tanaman kakao (Theobroma cacao L.). Komoditas kakao termasuk salah satu komoditas penting karena disamping dibutuhkan sebagai bahan baku industri makanan, juga dibutuhkan oleh industri lain seperti farmasi serta untuk komoditas ekspor. Sehingga tidaklah mengherankan bila para petani kakao berusaha memaksimalkan produksinya dengan Memelihara tanaman sebaik-baiknya. Bagaimana pun juga kendala dalam meningkatkan produktivitas tanaman kakao ternyata lebih besar dibandingkan perkiraan para petani. Karena ternyata belakangan ini produksi dan kualitas biji yang dihasilkan cenderung mangalami penurunan akibat serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK).
Beberapa daerah sentra tanaman kakao, biji yang dihasilkan rusak karena serangan PBK dapat mencapai 80%. Artinya dari 1 kg hasil panen hanya 2 ons kakao yang bisa diambil hasilnya. Bisa kita bayangkan bila produksi kita sekitar 100 ton, tentu saja yang bisa kita dapatkan hanya 20 ton saja. Sebuah kerugian yang sangat besar. Hasil survei Pusat Pengembangan Bersama Kakao yang dilakukan di Sulsel menunjukkan bahwa sekitar 100.000 ha daerah sentra produksi kakao mengalami serangan PBK yang serius. Keadaan demikian juga dialami di Sulawesi Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa serangan hama PBK benar-benar sangat merugikan dan perlu segera diambil tindakan. Oleh karena itu perlu pengetahuan mengenai hama penggerek buah kakao dan bagaimana cara pengendalian yang tepat.
Serangga ini tergolong hama yang sulit dikendalikan. Dikarenakan memiliki siklus hidup yang unik. Seperti halnya serangga lain, PBK ini juga berkembang biak dengan cara bertelur. Hama ini biasanya meletakkan telurnya setelah matahari terbenam pada alur kulit buah kakao. Setelah telur menetas dan menjadi larva. Larva inilah yang menjadi biang kerusakan pada buah coklat karena dia akan segera membuat lubang ke dalam buah setelah menetas . Perilaku ini dimaksudkan agar terhindar dari pemangsa (predator). Larva yang masuk ke dalam buah akan tinggal pada biji atau plasenta (saluran makanan).
Di dalam buah, larva akan menggerek daging buah kakao tepat di bawah plasenta. Bahkan bagian diantara biji serta plasentanya pun ikut digerek, sehingga bila kita mengelopakkan kulit buah akan tampak lubang berwarna merah muda yang berliku-liku di dalam buah. Jadi, dengan adanya serangan PBK pada buah ini sedikit banyak akan menyebabkan biji gagal berkembang, biji dalam buah saling melekat, bentuknya kecil dan ringan. Padahal biji inilah yang dipanen dan menjadi produk utama dari tanaman kakao. Bila kualitas bijinya sebagai bahan baku tidak baik, tentu saja akan mempengaruhi kualitas produk akhirnya.
Kebiasaan hama PBK yang menyukai berada dalam buah tentu saja membuat pengendalian hama menjadi lebih sulit karena disamping kita sulit mengindentifikasi adanya kerusakan pada buah sejak dini, juga aplikasi pestisida langsung pada buah akan kurang efektif. Segala sesuatu ada kekuatan, ada pula kelemahannya, sehingga satu-satunya jalan untuk mengendalikan hama PBK ini adalah mengetahui dan memahami siklus hidup serta kebiasaannya. Dengan mengetahui siklus hidupnya, maka setidaknya kita bisa mengetahui pada fase mana hama tersebut membahayakan. Sehingga kita bisa merancang cara pengendaliannya.
Siklus Hidup
Sekurangnya dibutuhkan waktu 35 – 45 hari oleh hama PBK untuk berkembang dari telur menjadi imago (serangga dewasa), sehingga wajar dalam waktu yang cukup singkat perkembangan hama PBK ini sangat cepat. Siklus hidup serangga PBK ini sama seperti umumnya serangga lain yaitu : telur, larva, pupa dan imago.

Siklus Hidup Imago Conopomorpha Cramerella Snellen

Telur
Pada fase telur, PBK akan bertelur dengan warna merah jingga. Telur-telur tersebut akan diletakkan induk betinanya pada kulit buah. Bentuk telur itu sendiri sulit diidentifikasi saking kecilnya dan sukar dilihat dengan mata telanjang. Telurnya berukuran panjang 0.8 mm dan lebar 0.5 mm. Serangga dewasa dapat bertelur antara 50 – 100 butir pada setiap buah kakao. Telur-telur tersebut akan menetas antara 3 – 7 hari setelah diletakkan.
Larva
Setelah telur menetas, akan keluar larva. Larva tersebut akan bergerak dan mulai membuat lubang ke dalam kulit selanjutnya masuk ke dalam buah kakao. Lubang gerekan berada tepat di bawah tempat meletakkan telur. Selanjutnya akan menggerek daging buah, diantara biji dan plasenta. Panjang larva sekitar 1,2 cm dan berwarna ungu muda hingga putih, lama hidup dalam buah kakao antara 14 – 18 hari, kemudian telur berubah menjadi kepompong. Biasanya larva berkepompong pada daun atau alur buah, pada fase ini larva membuat lubang keluar dengan benang-benang sutra yang keluar dari mulutnya. Melalui benang itulah, ia turun ke tanah dan menggulung menjadi kepompong. Oleh sebab itu kepompong seringkali di temukan pada daun atau kantong plastik yang ada di sekitar pohon.
Pupa
Setelah enam hari menjadi kepompong, akan keluar pupa berwarna abu-abu gelap dengan panjang 8 mm. Ketika setengah badan pupa keluar dari kepompong, ia melepaskan kulitnya lalu muncul sebagai imago.
Imago
Imago (serangga dewasa) dari hama PBK ini panjangnya 7 mm dan lebar 2 mm, memiliki sayap depan berwarna hitam bergaris putih, pada setiap ujungnya terdapat bintik kuning dan sayap belakang berwarna hitam, memiliki antena yang panjang serta runcing. Serangga ini aktif pada malam hari pukul 18 : 00 – 20 : 30. Pada siang hari biasanya berlindung di tempat lembab dan tidak terkena sinar matahari. Daya terbangnya pun tidak terlalu tinggi namun mudah terbawa oleh angin. Serangga dewasa ini sendiri hanya berumur 5 – 7 hari, jadi setelah bertelur dia akan mati.
Metode Pengendalian
Ada beberapa pengendalian yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran dan serangan hama tersebut yaitu :
Karantina
Metode karantina dilakukan dengan mencegah masuknya hama dari negara lain seperti Philipina dan Malaysia atau dari satu daerah ke daerah lain dengan cara menghindari masuknya buah yang terjangkit serta bahan maupun alat yang mengandung hama PBK.
Frekuensi Panen
Kakao yang panennya terlalu sering sangat beresiko terserang hama PBK . Kulit buah yang telah dipanen di kumpulkan dan dibenamkan ke dalam tanah sehingga mampu menekan populasi serta perkembangbiakan PBK karena banyak larva yang juga ikut terbenam bersama kulit buah.
Pemangkasan
Pemangkasan kakao dapat dilakukan sebagai salah satu pengendalian hama, karena selain untuk mengatur tajuk tanaman dan meningkatkan produksi, dengan memangkas tajuk tanaman, otomatis kanopi nya tidak terlalu rindang. Kondisi kanopi yang rindang sangat kondusif bagi pertumbuhan hama PBK. Salah satu kelemahan hama PBK adalah tidak menyukai sinar matahari langsung, sehingga bila dilakukan pemangkasan yang sering dan teratur akan dapat menekan populasi karena pendistribusian sinar matahari pada bagian tanaman maupun areal kebun menjadi merata
Pemupukan
Bertolak dari pemikiran bahwa ketersediaan unsur hara berkaitan erat dengan pertumbuhan dan produktivitas yang optimal, maka pengendalian hama bisa dilakukan dengan cara memberikan pupuk yang cukup. Maksudnya adalah bahwa terpenuhi unsur hara yang dibutuhkan tanaman akan memperlancar proses metabolisme tanaman. Lancarnya poses tersebut akan mempercepat masaknya buah, sehingga akan mengurangi tingkat kerusakan buah dan memungkinkan frekuensi panen lebih sering. Disamping itu pertumbuhan tanaman yang optimal akan mempengaruhi daya tahan tanaman terhadap serangan hama PBK meskipun pengaruhnya tidak begitu besar.
Sanitasi
Sanitasi berarti member-sihkan areal kebun dari daun-daun kering, tanamn tidak sehat, ranting kering, kulit buah maupun gulma yang berada di sekitar tanaman. Keadaan ini akan menciptakan suatu kondisi yang tidak sesuai dengan lingkungan untuk perkembangbiakan hama PBK
Sistem rampasan
Sistem rampasan berarti buah yang menggantung di pohon semua dirampas. Setiap tahun sekali dapat dilakukan rampasan terhadap semua buah. Dengan cara demikian, PBK itu hanya terbang di sekitar tanaman tanpa bisa menemukan tempat untuk meletakkan telur. Akhirnya PBK itu akan mati tanpa bisa meninggalkan keturunan. Adapun saat yang tepat untuk melakukan perampasan adalah setelah panen raya.
Kondomisasi
Kondomisasi berarti memberikan selubung perlindungan terhadap buah kakao. Selubungnya dapat menggunakan kantong plastik yang ujung bagian atasnya diikatkan pada tangkai buah, sedangkan ujung buah tetap terbuka. Dengan penyelubungan buah tersebut, hama tidak bisa meletakkan telurnya pada kulit buah sehingga buah akan terhindar dari geretan larva.
Musuh Alami
Musuh alami yang digunakan dalam pengendalian PBK adalah Jamur Beauveria bassiana. Karena, Jamur Beauveria bassiana menginfeksi serangga inang terutama cara langsung menembus kutikula.  Sora yang jatuh pada permukaan kutikula berkecambah dan untuk menembus lapisan kutikula digunakan tabung penetrasi yang dibentuk pada ujung tabung kecambah.  Setelah mencapai saluran pembuluh darah, jamur tumbuh dengan pesat sehingga nutrisi di dalam tubuh terkuras, darah menjadi kental dan akhirnya mati.

1 komentar:

Randes Fauzan mengatakan...

Arigatou ghozaimasu kakak.

Poskan Komentar

 
Powered by Blogger | Printable Coupons